Dalam khazanah kebudayaan Sunda, terdapat satu ajaran yang tampak sederhana namun menyimpan kedalaman makna yang jarang diselami secara utuh: salira ka balaréa. Ia mengajarkan bahwa segala ikhtiar memperbaiki kehidupan bersama harus bermula dari diri, lalu tumbuh menjadi kesadaran kolektif. Bukan sekadar etika personal, melainkan fondasi kebudayaan yang menautkan batin individu dengan nasib masyarakat.
Di tengah persoalan bangsa hari ini, krisis kepercayaan, rapuhnya etika publik, korupsi yang berulang, serta kegaduhan politik yang seolah tak berkesudahan, kita kerap terjebak pada kebiasaan menunjuk ke luar. Sistem disalahkan, pemimpin dicaci, keadaan dianggap selalu tidak adil. Dunia pun menjelma panggung kesalahan kolektif, sementara kita bersembunyi sebagai penonton yang merasa paling benar. Inilah salah satu gejala krisis kesadaran, kegemaran mengoreksi orang lain tanpa keberanian bercermin pada diri sendiri.
Padahal, budaya Sunda sejak lama mengingatkan bahwa kerusakan sosial tidak pernah lahir tiba-tiba. Ia berakar dari batin manusia yang pelan-pelan kehilangan kejujuran, rasa malu, dan tanggung jawab. Salira ka balaréa menempatkan perubahan bukan pada kemarahan terhadap dunia, melainkan pada pembentukan karakter diri sebagai titik awal.
Ir. Roza Rahmadjasa Mintaredja (Kang Oca) pernah menyatakan, “Semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi hampir tidak ada yang sungguh-sungguh berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” Kalimat ini adalah kritik kebudayaan yang tajam. Dunia tidak digerakkan oleh teriakan paling keras, melainkan oleh kualitas karakter manusia yang menghuninya. Ketika hati dipenuhi keserakahan, dunia menjadi rakus. Ketika pikiran dikuasai ketakutan, dunia terasa kejam. Dan ketika nurani kehilangan arah, keadilan pun tinggal slogan.
Kita hidup dalam paradoks. Kita menuntut demokrasi, transparansi, dan keadilan sosial, tetapi sering abai melatih kejujuran dalam keputusan-keputusan kecil. Kita mengutuk kebohongan di ruang publik, namun menoleransi dusta yang menguntungkan diri sendiri. Dari celah inilah kemunafikan tumbuh, merusak sendi kepercayaan sosial secara perlahan namun pasti.
Dalam tradisi Sunda, salira ka balaréa tidak berhenti sebagai kesadaran individual yang terputus dari lingkungan sosial. Ia memiliki jenjang laku yang jelas dan membumi: dimimitian ku awak sakujur, batur sakasur, batur sasumur, batur sa lembur.
Kesadaran dimulai dari awak sakujur, diri seutuhnya, pikiran, rasa, dan perbuatan yang selaras. Dari sana ia mengalir ke batur sakasur, orang-orang terdekat yang setiap hari berbagi ruang hidup dan ruang batin. Lalu meluas ke batur sasumur, lingkungan yang saling berbagi sumber kehidupan, sebelum akhirnya menjelma tanggung jawab kepada batur sa lembur, komunitas tempat nilai diuji dan martabat bersama dipertaruhkan.
Urutan ini menunjukkan bahwa kebudayaan Sunda menolak perubahan instan yang meloncat-loncat. Ia tidak mengenal kesadaran semu yang lantang berbicara tentang bangsa, tetapi lalai merawat rumah tangga, lingkungan, dan relasi terdekat. Perubahan yang sejati selalu bergerak dari yang paling dekat, paling nyata, dan paling bisa dipertanggungjawabkan.
Nilai ini sejalan dengan pesan spiritual yang bersifat universal. Al-Qur’an dalam Surat At-Tahrim ayat 6 mengingatkan: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Pesan tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab moral tidak dimulai dari negara atau institusi, melainkan dari kesadaran personal. Tanpa fondasi etika
individu, hukum dan sistem hanya menjadi rangka tanpa jiwa.
Mengubah diri bukanlah laku heroik yang gemerlap. Ia adalah jalan sunyi—hening dan sering kali menuntut kejujuran tanpa saksi. Di sanalah manusia belajar mengakui kelemahan, memeriksa motif batin, dan merapikan niat. Dr. Ir. Hadi Prajaka, S.H., M.H. menyebut proses ini sebagai keberanian berdamai dengan bayangan diri, sebuah prasyarat sebelum seseorang sibuk menilai bayangan orang lain.
Dalam konteks kebangsaan, krisis yang kita hadapi sejatinya bukan semata krisis sistem, melainkan krisis kesadaran. Kita memiliki banyak aturan, tetapi miskin keteladanan. Kita kaya slogan, tetapi miskin laku. Salira ka balaréa hadir sebagai pengingat bahwa bangsa yang besar tidak dibangun hanya oleh regulasi, melainkan oleh manusia-manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri.
Jalaluddin Rumi menuliskan dengan lembut namun menghunjam, “Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku.” Kutipan ini menemukan gaungnya dalam salira ka balaréa. Kebijaksanaan tidak lahir dari ambisi menundukkan dunia, melainkan dari keberanian menaklukkan ego sendiri.
Menata bangsa berarti menata manusia. Menata manusia berarti menata kesadaran dan kesadaran itu dimulai dari diri, dirawat dalam keluarga, dijaga di lingkungan, lalu ditegakkan bersama dalam komunitas. Di situlah salira ka balaréa menemukan maknanya yang paling hakiki, kesadaran kolektif yang tumbuh dari laku personal, bergerak perlahan namun pasti, menata bangsa dari dalam.
Robby Maulana Zulkarnaen