Melestarikan Seni dan Budaya Pencak Silat

Bandung, 15 Januari 2026, Perkumpulan Penyandang Disabilitas dan Lansia ( DILANS ) Indonesia terus mengadvokasi akses inklusif dan akomodasi yang layak di berbagai sektor: ekonomi, politik, sosial, budaya, sains dan teknologi. Didirikan di Bandung pada 3 Desember 2021, organisasi ini bertujuan memastikan lebih dari 50 juta penyandang disabilitas dan lansia di Indonesia, serta lebih dari 1,5 miliar secara global, tidak tertinggal dalam pembangunan dan partisipasi sosial.

Markas Besar DILANS INDONESIA
Jl. Ir. H. Juanda ( Dago ) No 23 Kota Bandung

Presiden DILANS Indonesia, Farhan Helmy, menekankan pentingnya Seni dan Budaya Tradisional sebagai ruang interaksi sosial dan penguatan komunitas.

“ Seni dan Budaya Tradisional penting karena menciptakan ikatan sosial yang kuat.

Seperti pepatah, tak kenal maka tak sayang, ” ujar Farhan kepada wartawan di kantornya di Bandung.

Menurut Farhan, Pencak Silat kerap dipersepsikan secara sempit sebagai olahraga tarung kompetitif, sehingga terlihat tidak berbeda dengan bela diri lain seperti karate atau taekwondo.

“ Pandangan ini mengabaikan akar filosofisnya yang dalam. Pencak Silat berlandaskan nilai – nilai luhur dan sejak awal tidak dimaksudkan semata – mata untuk kompetisi tarung, ” katanya.

Farhan menjelaskan bahwa kerja – kerja DILANS saat ini, yang berfokus pada Kesetaraan Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial ( GEDSI ), kesadaran iklim, serta pembangunan komunitas berkelanjutan sangat sejalan dengan nilai – nilai yang terkandung dalam Pencak Silat.

“ Silat mengajarkan disiplin, saling menghormati, harmoni dengan alam dan kekuatan batin. Nilai – nilai ini sama dengan yang kami dorong dalam pemberdayaan penyandang disabilitas dan lansia agar dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat, ” ujarnya.

“ Bagi kami, inklusi bukanlah soal belas kasihan, tetapi soal keadilan. ”

Ia menambahkan, DILANS telah menjalankan berbagai program berbasis komunitas, termasuk dialog iklim yang inklusif, pelatihan kepemimpinan bagi pemuda penyandang disabilitas, advokasi layanan publik yang aksesibel, serta ruang – ruang budaya yang mempertemukan penyandang disabilitas, lansia dan masyarakat luas.

“ Dalam beberapa forum komunitas, kami sengaja mengintegrasikan seni dan budaya.
Ini menciptakan ruang aman bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri dan berinteraksi secara setara, ” jelas Farhan.

Salah satu contoh konkret adalah inisiatif Inclusive District Platform ( IDP ), di mana DILANS bekerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas untuk mengintegrasikan inklusi disabilitas, ketahanan iklim dan partisipasi sosial dalam perencanaan pembangunan tingkat kabupaten/kota.

“ Budaya adalah pintu masuk yang kuat. Melalui Pencak Silat, kita bisa berbicara tentang inklusi, ketangguhan dan keberlanjutan dengan cara yang mudah dipahami masyarakat, ” tambahnya.

Pandangan ini diamini oleh Kang Yus, seorang yang pernah berlatih silat aliran Cimande sejak SMA selama lebih dari lima tahun.

“ Silat membantu saya membangun kepercayaan diri, ” ujar Yus.
“ Dulu saya sering diremehkan. Tapi di tempat latihan, kami semua setara. ”

Farhan mengingatkan bahwa makna kultural Pencak Silat kini semakin memudar, terutama di kalangan generasi muda.

“ Ini adalah aset budaya. Jika kita biarkan memudar, kita akan kehilangan bagian penting dari identitas kita, ” katanya.

Untuk itu, Farhan mendorong revitalisasi Pencak Silat di lingkungan pendidikan.

“ Kami berharap Pencak Silat dapat terus dipromosikan dan diajarkan di semua jenjang pendidikan, dengan pendekatan yang inklusif dan aksesibel bagi semua siswa, ” ujarnya.

Farhan juga menyoroti pergantian kepemimpinan di Persatuan Pencak Silat Indonesia ( PPSI ) sebagai peluang strategis untuk membangkitkan kembali seni ini, khususnya di Jawa Barat.

“ Kepemimpinan baru ini adalah momentum. Harus dimanfa’atkan untuk memperkuat dan memperkenalkan kembali Pencak Silat, bukan hanya sebagai olahraga, tetapi sebagai warisan budaya yang menjunjung nilai inklusi, ketangguhan dan keadilan sosial, ” pungkasnya.

Bandung, Kamis, 15 Januari 2026

Muhammad Zaki Mubarrok
Humas DPW PPSI Jawa Barat

Tinggalkan Komentar Anda

Email anda tidak akan dipublish. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

REKOMENDASI TAYANGAN