KOTA BOGOR — Denting kendang, langkah para pendekar, serta gerak seni pencak silat mewarnai denyut Kota Bogor pada Minggu (23/8/2026). Dari Balai Kota Bogor menuju Pintu Utama Istana Bogor hingga Alun-Alun Kota Bogor, Helaran Kirab P.P.S.I. Kota Bogor 2026 menjadi lebih dari sekadar perayaan organisasi.
Kirab yang digelar bertepatan dengan Milangkala P.P.S.I. ke-69 dan semangat Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 itu menjadi sebuah pesan kebudayaan: bahwa pencak silat tradisi harus tetap hidup, hadir di tengah masyarakat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Para sesepuh, pendekar, guru, pimpinan paguron, komunitas hingga generasi muda menyatu dalam satu barisan. Mereka membawa bukan sekadar atraksi pencak silat, tetapi juga membawa sejarah, nilai, adab dan identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pencak Silat Bukan Sekadar Bela Diri
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, M.A., menegaskan bahwa pencak silat memiliki kedudukan penting dalam pembentukan karakter masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, pencak silat mengajarkan jauh lebih banyak daripada teknik bela diri. Di dalamnya terdapat nilai adab, disiplin, keberanian, penghormatan kepada guru dan orang tua, persaudaraan, gotong royong hingga kecintaan terhadap tanah air.
“Pencak silat bukan hanya bela diri. Pencak silat adalah warisan nilai dan jati diri,” tegas Dedie.
Pernyataan tersebut menjadi pesan kuat bahwa upaya pelestarian pencak silat tidak boleh berhenti pada mempertahankan gerakan atau bentuk pertunjukannya. Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai dan filosofi kehidupan yang melekat di dalamnya.
Budaya, kata Dedie, harus terus hadir dalam kehidupan masyarakat dan mampu menarik minat generasi muda. Perkembangan zaman bukan alasan untuk meninggalkan budaya, melainkan peluang untuk menghadirkannya dalam bentuk yang lebih kreatif dan relevan.
Karena itu, Pemerintah Kota Bogor menyambut positif Gerakan Regenerasi Kebudayaan dan Pendidikan Pencak Silat Tradisi—Ibing Penca Kabogoran dalam kepengurusan P.P.S.I. Kota Bogor periode 2026–2031.

“Si Maung Raga”, Wajah Baru Pencak Silat Tradisi
Salah satu bagian menarik dalam helaran tersebut adalah kehadiran “Si Maung Raga”, maskot Pencak Silat Tradisi Kota Bogor.
Bagi Pemerintah Kota Bogor, kehadiran maskot ini bukan sekadar simbol visual. “Si Maung Raga” diharapkan menjadi media komunikasi dan edukasi budaya yang lebih kreatif, komunikatif dan dekat dengan dunia generasi muda.
“Jadikan Si Maung Raga sebagai media edukasi dan sahabat generasi muda untuk mengenal pencak silat, budaya Sunda, nilai keberanian, kedisiplinan, persaudaraan dan kecintaan terhadap Kota Bogor,” ujar Dedie.
Pesan tersebut menjadi bagian dari tantangan besar pelestarian budaya di era digital. Pencak silat perlu hadir bukan hanya di padepokan dan paguron, tetapi juga di ruang pendidikan, ruang publik, media digital dan berbagai platform kreatif yang menjadi bagian dari keseharian generasi muda.

Kirab yang Membawa Sejarah Menuju Masa Depan
Bagi Dedie, kekuatan utama sebuah kirab bukan hanya terletak pada kemeriahan barisan yang berjalan menyusuri jalan kota.
Kirab memiliki makna simbolis: membawa warisan yang selama ini hidup di lingkungan paguron untuk diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas.
“Kirab ini bukan hanya perjalanan sebuah barisan. Kirab ini adalah perjalanan sebuah warisan. Warisan dari para sesepuh kepada generasi muda, dari paguron kepada masyarakat, dan dari sejarah menuju masa depan,” ungkapnya.
Kalimat tersebut seolah menjadi gambaran perjalanan pencak silat itu sendiri.
Dari tangan para sesepuh, ilmu diwariskan kepada guru. Dari guru diteruskan kepada murid. Dari paguron dibawa ke tengah masyarakat. Dan dari generasi hari ini, tradisi tersebut diharapkan menemukan jalan untuk terus hidup di masa depan.
Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Bogor turut didampingi sejumlah pejabat Pemerintah Kota Bogor, di antaranya Kadispora Kota Bogor Drs. Anas S. Rasmana, M.M., Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor H. Dian Herdiawan, S.P., M.M., serta Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor Yosef Berliana, S.Pd., M.Pd.

P.P.S.I. Kota Bogor: Jangan Biarkan Warisan Berhenti di Masa Lalu
Sementara itu, Ketua Umum P.P.S.I. Kota Bogor Hizriyanda Putra mengatakan, Helaran Kirab P.P.S.I. Kota Bogor bukan hanya momentum memperingati perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali pencak silat tradisi di tengah masyarakat.
“Helaran ini menjadi momentum untuk menyatukan para sesepuh, pendekar, guru, paguron dan generasi muda dalam satu semangat menjaga serta melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya Kota Bogor. Kami ingin pencak silat tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus tumbuh, dikenal dan dicintai generasi muda,” ujar Hizriyanda.
P.P.S.I. Kota Bogor, lanjutnya, akan terus mendorong regenerasi, pendidikan dan pengembangan pencak silat tradisi, termasuk Ibing Penca Kabogoran, dengan tetap menjaga nilai, adab dan akar budaya yang diwariskan para sesepuh.
“Yang kami jaga bukan hanya gerakannya, tetapi juga nilai dan jati diri yang ada di dalamnya. Semangatnya adalah bagaimana warisan para sesepuh dapat diteruskan oleh generasi muda dan tetap relevan dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Dari Jalan Kota Bogor untuk Generasi Masa Depan
Helaran Kirab P.P.S.I. Kota Bogor 2026 pada akhirnya menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu berada di balik tembok padepokan.
Budaya harus berani hadir di tengah masyarakat. Harus terlihat, didengar, dipelajari dan dirasakan oleh generasi muda.
Pencak silat tradisi bukan sekadar rangkaian gerakan. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang tentang adab, keberanian, kedisiplinan, persaudaraan, penghormatan dan kecintaan terhadap tanah air.
Karena itu, menjaga pencak silat berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah seni bela diri.
Menjaga pencak silat berarti menjaga warisan para sesepuh. Menjaga jati diri masyarakat. Menjaga budaya Sunda. Dan yang paling penting, memastikan nilai-nilai luhur itu tetap memiliki tempat di hati generasi masa depan.
Dari Balai Kota, melewati kawasan Istana Bogor hingga Alun-Alun Kota Bogor, helaran itu membawa satu pesan yang sederhana namun kuat:
Pencak silat tidak boleh hanya dikenang sebagai warisan masa lalu. Pencak silat harus terus hidup, tumbuh dan menjadi bagian dari masa depan Kota Bogor.
Salam P.P.S.I., Budi – Bakti – Sakti.
Bidang Digital Sosial Media Planer DPW P.P.S.I Jawa Barat || #CS979