KOTA BANJAR — Semangat pelestarian pencak silat tradisional kembali bergema di Kota Banjar. Sebanyak 114 pesilat dari 11 paguron di bawah naungan DPD Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kota Banjar tampil dalam Pasanggiri Pencak Silat Tradisional “Jawara Paseuk Nagara II”, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Dipusatkan di Sekretariat DPD PPSI Kota Banjar, kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Banjar, Sudarsono. Kehadiran ratusan pesilat dari berbagai kelompok usia menjadi gambaran bahwa pencak silat tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi masih hidup, tumbuh dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
Pasanggiri ini menjadi panggung bagi pesilat untuk menunjukkan kemampuan, ketangkasan, seni gerak, sekaligus karakter yang menjadi ruh dalam pencak silat tradisional. Sebanyak 15 kategori dipertandingkan, mulai dari kelompok pra-anak, anak, remaja, dewasa hingga kasepuhan.
Kategori yang dipertandingkan meliputi Tunggal Pra Anak Putra dan Putri, Tunggal Anak Putra dan Putri, Ijen Putra dan Putri, Rampak Anak Putra dan Putri, Tunggal Remaja Putra dan Putri, Rampak Remaja Putri, Difabel Tunggal Remaja Putra, Tunggal Dewasa Putra dan Putri, serta Tunggal Kasepuhan.

Bukan Sekadar Pertandingan
Lebih dari sekadar perebutan prestasi, Jawara Paseuk Nagara II menghadirkan sebuah pesan penting tentang regenerasi dan keberlanjutan tradisi.
Peserta yang hadir berasal dari lintas generasi. Anak-anak belajar mengenal gerak dan filosofi pencak silat, para remaja mulai mengasah kemampuan dan mental bertanding, sementara generasi dewasa hingga kasepuhan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan ilmu, teknik, nilai dan tradisi.
Di sinilah makna regenerasi sesungguhnya. Regenerasi bukan hanya tentang melahirkan pesilat-pesilat muda, tetapi memastikan nilai dan jati diri pencak silat tetap tersambung dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ketua Panitia Jawara Paseuk Nagara II, Maman Jaelani, menyampaikan bahwa keterlibatan 11 paguron menunjukkan tingginya antusiasme para pelaku pencak silat terhadap kegiatan yang digelar PPSI Kota Banjar.
Antusiasme tersebut sekaligus menjadi modal penting bagi penguatan ekosistem pencak silat tradisional di Kota Banjar. Sebab, semakin banyak paguron yang aktif, semakin besar pula ruang untuk membangun komunikasi, bertukar pengalaman dan memperkuat persaudaraan antar-pelaku pencak silat.

Panggung Silaturahmi dan Regenerasi
Jawara Paseuk Nagara II juga menjadi ruang perjumpaan antarpaguron. Di tengah kesibukan latihan dan pembinaan, pasanggiri menghadirkan kesempatan untuk bertemu, bersilaturahmi dan membangun hubungan yang lebih erat.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan PPSI. Pencak silat tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang pesilat menghadapi lawan di arena, tetapi juga bagaimana membangun rasa hormat, persaudaraan, disiplin dan tanggung jawab di tengah kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, arena pasanggiri bukan hanya tempat mengukur kemampuan, melainkan juga ruang untuk memperkuat kebersamaan dan menjaga denyut kehidupan pencak silat tradisional.

KORMI Dorong Pembinaan Bibit Pesilat
Dukungan terhadap kegiatan tersebut turut disampaikan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Banjar.
Ketua KORMI Kota Banjar, Sulyanati, mengapresiasi penyelenggaraan Jawara Paseuk Nagara II dan menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam pengembangan olahraga masyarakat sekaligus pembinaan calon atlet.
“Kami dari KORMI mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan ini. PPSI merupakan salah satu in-organ KORMI yang menjadi pelopor,” ujar Sulyanati.
Menurutnya, pembinaan atlet tidak selalu harus dimulai dari kompetisi prestasi resmi. Pasanggiri seperti Jawara Paseuk Nagara II dapat menjadi ruang awal untuk melihat kemampuan, menemukan bakat dan memetakan potensi pesilat yang dapat dikembangkan lebih jauh.
“Pembinaan bibit dan atlet itu tidak harus selalu dimulai dari jenjang prestasi resmi. Kegiatan seperti ini bisa menjadi media untuk menyeleksi, mencari dan melihat bibit-bibit yang memiliki potensi untuk berprestasi ke depan,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pasanggiri memiliki fungsi yang lebih luas. Setelah pertandingan berakhir, pesilat-pesilat yang memiliki potensi perlu mendapatkan pembinaan secara berkelanjutan agar kemampuan yang mereka miliki tidak berhenti di arena pasanggiri.

Ketika Pencak Silat Membuka Ruang untuk Semua
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam Jawara Paseuk Nagara II adalah hadirnya kategori Difabel Tunggal Remaja Putra.
Kehadiran kategori tersebut menunjukkan bahwa pencak silat dan olahraga masyarakat dapat berkembang menjadi ruang yang lebih inklusif. Setiap peserta memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, keberanian dan semangatnya tanpa dibatasi oleh kondisi fisik.
Pesan yang lahir dari kategori tersebut jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Pencak silat menunjukkan bahwa setiap orang memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya dan berprestasi.

Menjaga Tradisi, Menyiapkan Masa Depan
Jawara Paseuk Nagara II pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Di balik 114 pesilat dan 11 paguron yang hadir, terdapat cerita tentang anak-anak yang sedang belajar mengenal budaya, remaja yang sedang membangun karakter, orang dewasa yang terus menjaga tradisi, serta para kasepuhan yang menjadi mata rantai penting dalam perjalanan pencak silat.
Inilah kekuatan terbesar pencak silat tradisional.
Ia tidak hanya hidup di arena pertandingan, tetapi juga di sanggar, paguron, lingkungan keluarga dan masyarakat. Ia diwariskan melalui gerak, latihan, keteladanan dan nilai-nilai kehidupan.
Karena itu, keberlanjutan pencak silat tradisional tidak cukup hanya dengan menggelar pasanggiri. Diperlukan pembinaan yang konsisten, regenerasi yang terarah, penguatan paguron serta dukungan berbagai pihak agar potensi yang lahir dari setiap kegiatan dapat terus berkembang.
Bagi PPSI Kota Banjar, Jawara Paseuk Nagara II menjadi bukti bahwa pencak silat tradisional masih memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat.

114 pesilat. 11 paguron. 15 kategori. Lintas generasi.
Semuanya bertemu dalam satu semangat: melestarikan tradisi, membangun karakter, mempererat persaudaraan dan menyiapkan generasi penerus pencak silat.
Sebab menjaga pencak silat bukan hanya menjaga sebuah seni bela diri. Menjaga pencak silat berarti menjaga warisan budaya, jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jawara Paseuk Nagara II pun menjadi pengingat bahwa selama masih ada generasi yang mau belajar, berlatih dan mewariskan pencak silat, maka tradisi itu akan terus hidup dan memiliki masa depan.
Salam P.P.S.I., Budi – Bakti – Sakti.
Bidang Digital Sosial Media Planer DPW P.P.S.I Jawa Barat || #CS979