BUDAYA SUNDA IS BACK – VIBES BARU DARI TRADISI KE TREN : “SILAT, IDENTITAS, DAN KITA”

Oleh. Hizriyanda Putra, DiplCS, BSc(Hons)
Ketua Umum DPD P.P.S.I Kota Bogor

Kota Bogor, 7 Mei 2026 – Akhir-akhir ini, kalau lo cukup peka sama apa yang lagi happening di sekitar, pasti kerasa banget vibe kebangkitan budaya Sunda makin keliatan di ruang publik, kalau lo scrolling atau sekadar nongkrong di ruang publik, pasti kerasa banget, budaya Sunda lagi “naik lagi”. Bukan cuma sekadar wacana, tapi beneran muncul di mana-mana. Dari bahasa Sunda yang makin pede dipakai di konten digital, acara komunitas, sampai seni tradisi yang mulai diangkat lagi dengan kemasan kekinian, yang dikemas ulang jadi lebih relate sama generasi sekarang. Rasanya kayak ada semangat baru dan udah jadi gerakan kultural yang hidup lagi dengan cara yang fresh: “Ini lho, identitas gue. Kenapa harus malu?”

Banyak anak muda sekarang nggak lagi ngerasa “kuno” kalau ngomongin budaya Sunda,i ni jelas jadi angin segar. Dan jujur aja, ini harusnya jadi sesuatu yang positif. Di tengah arus globalisasi yang kadang bikin kita kehilangan jati diri, langkah buat ngejaga warisan leluhur tuh penting banget. Budaya bukan cuma soal masa lalu, tapi juga soal siapa kita hari ini dan mau jadi apa ke depan, juga tren budaya sunda ini harusnya dijadikan sebagai langkah positif, cara kita ngejaga warisan leluhur supaya nggak cuma jadi cerita di buku sejarah, tapi tetap hidup dan relevan di zaman sekarang.

Tapi ya namanya juga fenomena sosial, nggak semua orang ngelihat ini dengan kacamata yang sama. Selalu ada aja suara-suara yang mempertanyakan dan narasi-narasi yang mulai muncul, yang entah kenapa jadi curiga atau bahkan skeptis. Ada yang nganggep ini terlalu “dibesar-besarkan”, ada yang takut kalau ini bakal jadi eksklusif atau malah dipolitisasi. Bahkan nggak sedikit yang nanya, “Ini beneran soal pelestarian budaya, atau ada agenda lain?”. Padahal kalau ditarik ke esensinya, ini soal menjaga akar, bukan soal siapa paling “Sunda”.

Intinya, daripada sibuk nyari sisi negatifnya, kenapa nggak kita lihat ini sebagai momentum? Momentum buat ngenalin lagi akar kita, tapi dengan cara yang relevan sama zaman sekarang. Karena pada akhirnya, budaya yang kuat itu bukan yang dipaksakan, tapi yang bisa hidup dan diterima lintas generasi.

Di tengah pro dan kontra itu, peran organisasi kayak Persatuan Pencak Silat Indonesia (P.P.S.I) jadi penting banget. Lewat pendekatan seni tradisi silat, mereka nggak cuma ngajarin teknik bela diri, tapi juga nilai, filosofi, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya salahsatunya yang akan selalu dikedepankan adalah Ibing Penca Kabogoran. Pencak silat bukan cuma soal fisik, ini soal warisan, tentang cara leluhur kita melihat kehidupan, disiplin, dan kehormatan.

Kalau kegiatan kayak gini terus dijaga dengan semangat inklusif dan niat yang tulus, seni pencak silat tradisi bisa jadi benteng kuat buat pelestarian budaya. Bukan cuma dikenang, tapi benar-benar dihidupkan. Dari generasi ke generasi, dari ruang latihan ke ruang publik, dari tradisi ke masa depan.

Jadi mungkin daripada sibuk meragukan, lebih baik kita ambil bagian. Karena budaya itu nggak akan bertahan kalau cuma jadi penonton, dia butuh dirawat, dijaga, dan dirayakan bareng-bareng. (*hzp).

Salam.,
Salam P.P.S.I., Budi – Bakti – Sakti. P.P.S.I – Digjaya !!. P.P.S.I Kota Bogor – Membara !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

REKOMENDASI TAYANGAN