Di dunia bela diri Nusantara, nama Edwel Yusri Datuak Rajo Gampo Alam atau yang lebih dikenal sebagai Datuk Edwel adalah jaminan mutu bagi keaslian teknik Silek Harimau Minangkabau. Bukan sekadar pesilat, ia adalah penjaga nyala api tradisi yang nyaris punah, membawa jurus-jurus mematikan dari hutan Sumatera ke panggung dunia dan layar lebar.
Warisan Mistis Inyiak Angguik
Kisah Datuk Edwel bukan dimulai dari sasana modern, melainkan dari sejarah panjang di Balingka, Agam, Sumatera Barat. Ia mewarisi ilmu ini dari kakek buyutnya, Inyiak Angguik, sosok legendaris yang dikenal memiliki kemampuan telepati dengan harimau Sumatera.
Konon, Inyiak Angguik melatih jurus-jurusnya dengan bergelut langsung bersama delapan ekor harimau liar di kolong rumah panggungnya. Gerakan alami harimau saat menerkam, mencakar, dan menjatuhkan lawan inilah yang kemudian dikristalisasi menjadi Silat Harimau yang kita kenal sekarang—sebuah seni bela diri yang efisien, rendah ke tanah, dan sangat berbahaya.
Menembus Batas: Dari Hukum ke Gelanggang Silat
Meski menyandang gelar Sarjana Hukum dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, panggilan jiwa Datuk Edwel justru ada pada pelestarian budaya. Melihat Silat Harimau yang kian langka, ia memutuskan terjun total secara profesional.
Dedikasinya tidak main-main. Datuk Edwel telah melatih berbagai satuan elit dan institusi besar, mulai dari:
- Batalion Resimen Komando Kostrad 328 (Serpong).
- Resimen Mahasiswa Universitas Indonesia (UI).
- Hingga satuan pengamanan stasiun televisi nasional.
Ia juga mendirikan Yayasan Paguyuban Ikhlas dan menerbitkan buku silat dalam bahasa Inggris untuk memastikan dunia internasional bisa mempelajari teknik asli Minangkabau ini tanpa distorsi.
“Merantau” dan Diplomasi Budaya di Paris
Puncak popularitas Silat Harimau di mata publik modern terjadi saat Datuk Edwel didapuk sebagai koreografer gerak silat dalam film layar lebar “Merantau” (2009). Film yang melambungkan nama Iko Uwais ini menjadi saksi betapa estetik sekaligus mematikannya gerakan Silat Harimau di depan kamera.
Tak hanya di layar lebar, diplomasi budayanya telah membawanya melanglang buana ke Belanda hingga Prancis. Pada tahun 2004, ia memukau penonton di International Martial Arts Festival di Paris, membuktikan bahwa silat tradisional kita memiliki kasta yang sejajar dengan bela diri dunia lainnya.
Tetap Membumi di Tanah Abang
Meskipun sudah mendunia, Datuk Edwel tetap setia mengajar di akar rumput. Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjadi salah satu basis tempatnya menempa murid-murid baru agar silat ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tapi tetap hidup sebagai identitas bangsa.
Bagi Datuk Edwel, Silat Harimau bukan hanya soal cara berkelahi, tapi soal karakter dan penghormatan terhadap alam—seperti harimau yang tenang namun mematikan saat harga dirinya terusik. (Wikipedia)