KABUPATEN BOGOR — Ribuan langkah pesilat menyatu dalam satu irama. Gerak jurus, seni ibing, iringan tradisi dan semangat para pendekar memenuhi kawasan Alun-Alun Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, Minggu (23/8/2026).
Sebanyak 1.000 pesilat dikerahkan dalam Kirab Budaya dan Pertunjukan Pencak Silat untuk memperingati Milangkala Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) ke-69.
Bukan sekadar perayaan hari jadi organisasi, momentum tersebut menjadi penanda penting bagi kebangkitan kembali pencak silat tradisional di Kabupaten Bogor—daerah yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu ruang tumbuhnya beragam aliran dan tradisi pencak silat.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Ketua Umum PPSI Galih Santika, perwakilan PB IPSI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bogor, serta para pendekar, guru, pimpinan dan anggota berbagai perguruan pencak silat yang tergabung dalam PPSI Kabupaten Bogor.
Bogor dan Jejak Panjang Pencak Silat Tradisi
Ketua Umum PPSI Galih Santika menilai pemilihan Kabupaten Bogor sebagai lokasi Milangkala ke-69 memiliki makna tersendiri.
Menurutnya, Bogor sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan budaya dan berbagai aliran pencak silat. Karena itu, kehadiran PPSI di Kabupaten Bogor diharapkan dapat kembali menghidupkan semangat perguruan dan aliran pencak silat tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat.
“PPSI ini kan sudah 69 tahun. Kenapa memilih Kabupaten Bogor? Kabupaten Bogor ini kan dulunya pusat budaya, dulunya pusat aliran-aliran pencak silat,” kata Galih.
Ia berharap momentum Milangkala ke-69 menjadi titik balik untuk membangkitkan kembali aktivitas PPSI sekaligus meningkatkan perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan pencak silat tradisi.
“Saya berharap PPSI hadir kembali di Kabupaten Bogor, aliran-aliran pencak silat yang ada di Kabupaten Bogor bisa bangkit lagi. Dan perhatian pemerintah kepada bela diri tradisi bisa hidup lagi,” ujarnya.
Galih mengakui bahwa aktivitas PPSI di Kabupaten Bogor sebelumnya belum semaksimal beberapa daerah lainnya. Namun, ia optimistis momentum besar tersebut dapat menjadi awal baru bagi penguatan organisasi dan pembinaan pencak silat tradisional.
Dari 1.000 Pesilat Menuju 12.000 Pesilat
Kemegahan Milangkala ke-69 ternyata bukan akhir dari agenda PPSI di Kabupaten Bogor.
PPSI telah menyiapkan target yang jauh lebih besar. Pada Desember mendatang, Kabupaten Bogor ditargetkan menjadi lokasi perhelatan yang akan mempertemukan 12.000 pesilat dari berbagai daerah.
Agenda tersebut bahkan diarahkan untuk mencatatkan rekor MURI.
“Desember kita akan bikin rekor MURI di Kabupaten Bogor, 12.000 pesilat, Insya Allah. Teman-teman dari 17 provinsi ingin di sini,” ungkap Galih.
Jika terealisasi, agenda tersebut bukan hanya menjadi pertunjukan kolosal, tetapi juga dapat menjadi momentum bersejarah bagi pencak silat tradisional Indonesia.
Dari 1.000 pesilat yang memenuhi Alun-Alun Tegar Beriman hari ini, tersimpan sebuah visi yang jauh lebih besar: menjadikan Kabupaten Bogor sebagai salah satu pusat pergerakan, pembinaan dan pelestarian pencak silat tradisional.
Menjembatani Pencak Silat Indonesia hingga Dunia
Gerakan PPSI juga tidak berhenti di tingkat nasional.
Galih menjelaskan bahwa jejaring PPSI di luar negeri terus berkembang sebagai ruang untuk mempererat hubungan antarpencinta bela diri tradisional. Saat ini, PPSI disebut telah memiliki jejaring di 18 negara.
Kehadiran PPSI di tingkat internasional bukan semata-mata untuk membangun organisasi, tetapi menjadi sarana mempertemukan masyarakat dari berbagai negara yang memiliki kecintaan terhadap bela diri tradisional.
Ke depan, PPSI juga berencana memperluas jejaring tersebut melalui lingkup ASEAN, salah satunya melalui Festival Silat Melayu Tradisi Internasional yang direncanakan berlangsung di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
“Mudah-mudahan tahun depan bisa kita bikin event sedunia,” kata Galih.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa pencak silat tradisional memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan kebudayaan Indonesia dengan dunia.
Enam Bulan, 40 Perguruan Mulai Berhimpun
Di tingkat daerah, Ketua DPD PPSI Kabupaten Bogor Dodi Sangadipati menyambut bangga terselenggaranya Milangkala PPSI ke-69 di wilayahnya.
Menurut Dodi, kegiatan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena untuk pertama kalinya PPSI menyelenggarakan kegiatan tingkat nasional di Kabupaten Bogor selama masa kepengurusannya.
“Saya merasa lega, karena selama ini PPSI menyelenggarakan tingkat nasional baru sekarang ini kalau untuk di Kabupaten Bogor. Ini suatu kebanggaan bagi saya sebagai Ketua DPD Kabupaten Bogor,” ujar Dodi.
Sejak kepengurusan DPD PPSI Kabupaten Bogor dilantik sekitar enam bulan lalu, konsolidasi organisasi terus dilakukan. Hasilnya, sekitar 40 perguruan pencak silat yang aktif dan memiliki murid telah berhasil dihimpun dalam PPSI Kabupaten Bogor.
Angka tersebut menjadi modal penting untuk membangun organisasi sekaligus memperkuat ekosistem pencak silat tradisional di Kabupaten Bogor.
Dodi berharap kegiatan besar seperti Milangkala ke-69 mampu membuka mata masyarakat dan pemerintah mengenai besarnya potensi pencak silat yang hidup di Kabupaten Bogor.
“Semoga dengan adanya event ini membuka mata masyarakat, membuka mata pemerintahan untuk terus mendukung, men-support kegiatan kami,” katanya.
Jurus Medal Mian, Identitas Baru Ibing Penca Kabupaten Bogor
Salah satu gebrakan yang dibawa DPD PPSI Kabupaten Bogor adalah upaya merumuskan jurus khas Kabupaten Bogor yang dapat menjadi bagian dari pendidikan sekaligus identitas budaya daerah.
Dodi mengungkapkan, pihaknya tengah mendorong agar jurus khas tersebut dapat diperkenalkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah.
Jurus tersebut diberi nama Jurus Medal Mian, sebuah garapan khas ibing pencak silat Kabupaten Bogor yang dirumuskan dengan menggabungkan unsur dari berbagai perguruan pencak silat yang ada di wilayah Kabupaten Bogor.
“Kita sudah bikin jurus baru, sambungan dari seluruh perguruan dijadikan jadi satu, menjadikan Jurus Medal Mian, garapan khas ibing pencak silat Kabupaten Bogor. Barusan sudah kami launching-kan di hadapan para petinggi,” pungkasnya.
Kehadiran Jurus Medal Mian membawa pesan penting: bahwa keberagaman perguruan tidak harus menjadi sekat, tetapi dapat dirangkai menjadi satu identitas budaya bersama.
Bukan Sekadar 1.000 Pesilat
Kirab budaya dan pertunjukan 1.000 pesilat di Alun-Alun Tegar Beriman pada akhirnya bukan hanya tentang jumlah.
Di balik setiap pesilat terdapat perguruan, guru, keluarga, tradisi dan sejarah yang terus diwariskan. Setiap gerakan yang ditampilkan membawa cerita tentang bagaimana pencak silat tumbuh dari masyarakat dan kembali kepada masyarakat.
1.000 pesilat adalah 1.000 energi kebudayaan.
Mereka menjadi simbol bahwa pencak silat tradisional masih memiliki denyut kehidupan yang kuat. Dan ketika 40 perguruan mulai berhimpun, jurus khas daerah mulai dirumuskan, serta ribuan pesilat dipersiapkan untuk kembali berkumpul, Kabupaten Bogor sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar sebuah perhelatan.
Kabupaten Bogor sedang menata kembali rumah besar pencak silat tradisionalnya.
Dari warisan para sesepuh, lahir gerakan baru. Dari paguron-paguron, lahir generasi penerus. Dari tradisi, lahir identitas. Dan dari Kabupaten Bogor, diharapkan kembali berkobar semangat pencak silat tradisional yang tidak hanya berakar kuat di tanah Sunda, tetapi mampu berbicara hingga tingkat nasional dan dunia.
Milangkala PPSI ke-69 bukan sekadar mengenang perjalanan 69 tahun. Ia menjadi penanda bahwa perjalanan itu masih panjang—dan masa depan pencak silat tradisional sedang dipersiapkan hari ini.
Salam P.P.S.I., Budi – Bakti – Sakti.
Bidang Digital Sosial Media Planer DPW P.P.S.I Jawa Barat || #CS979